{"id":1674,"date":"2023-08-18T00:14:11","date_gmt":"2023-08-17T17:14:11","guid":{"rendered":"https:\/\/koranbogor.com\/?p=1674"},"modified":"2023-08-18T00:14:11","modified_gmt":"2023-08-17T17:14:11","slug":"prof-didik-j-rachbini-catatan-atas-peta-politik-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/2023\/08\/18\/prof-didik-j-rachbini-catatan-atas-peta-politik-baru\/","title":{"rendered":"Prof.Didik J.Rachbini: Catatan atas Peta Politik Baru"},"content":{"rendered":"\n<p>KORANBOGOR.com,JAKARTA-Rektor Universitas Paramadina,Prof. Didik J. Rachbini menilai Politik di Indonesia bungkusnya demokrasi modern,tetapi isinya sangat tradisional, dan bahkan buruk karena tidak bisaditebak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kadang-kadang bercampur klenik. Tidak ada acuan ideologis, tidak juga ada dalam kerangka akademis \u201ctext book\u201d, yang contohnya kebanyakan Barat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSiapa yang menyangka bahwa Jokowi secara samar dan diam-diam membuat kendaraan koalisi, yang menyebabkan \u201chead to head\u201d dengan Megawati <\/p>\n\n\n\n<p>Koalisi ini kemudian menjadi kekuatan politik yang nyata.\u00a0\u00a0Ini terjadi setelah PAN dan Golkar bergabung atas \u201ctitah politik\u201d Jokowi.\u201d Kata Didik di Jakarta, Senin (15\/2\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menilai, kekuatan Jokowi sebagai presiden dan popularitas yang tinggi karena\u00a0kucuran subsidi yang besar dari APBN kepada rakyat bisa mewujudkan koalisi baru yang didukung dengan titah politiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jokowi memanfaatkan popularitas dan kekuatan politiknya untuk menjadi king maker di sudut sendiri, yang kemudian berhadapan dengan PDIP.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTetapi kita tidak tahu pasti kekuatan ini bisa saja melemah setelah penetapan Capres selesai. Kemudian melemah lagi menjelang periode kedua berakhir.\u201d Ujar didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Didik kongsi Jokowi Megawati bubar dan pecah karena tidak nyaman menjadi petugas partai. Status petugas partai ini terus berjalan atau tepatnya partai mensubordinasi presiden secara terus-menerus di muka publik. Jokowi-Megawati berhadap-hadapan secara politik dan keduanya telah menjadi king maker untuk calonnya masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPDIP sekarang berada di sudut sendiri dan berhadapan dengan banyak lawan.&nbsp;&nbsp;Semua partai besar dan menengah sudah hampir pasti bergabung dengan koalisi sendiri. Partai Golkar, PAN, Demokrat, dan PKS sudah berlabuh dalam koalisi masing-masing. Mitra koalisi P3 tidak terlalu signifikan sehingga nanti berpengaruh terhadap elektabilitas Ganjar Pranowo\u201d kata Didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menilai, Megawati sekarang menghadapi banyak lawan, yang berat, baik Surya Paloh dan SBY.&nbsp;&nbsp;Sekarang lawan baru yang mengejutkan adalah Jokowi sendiri, yang berhasil mewujudkan koalisi kelas berat.&nbsp;&nbsp;PDIP semakin sulit dan berat.&nbsp;&nbsp;Banyak sekali kritik atas perubahan ini karena masalah PDIP sendiri, yang dianggap terlalu arogan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan berharap pemerintah memikirkan rakyat. Pemerintahan sudah setengah bubar dengan polah dan format politik cawe-cawe seperti ini. Tahun 2023-2024 ini adalah tahun terburuk bagi kebijakan ekonomi, sosial, pendidikan, dll.&nbsp;&nbsp;Jangan berhadap ekonomi akan tumbuh 6 persen atau 7 persen seperti janji kampanye dulu,\u201d ucap Didik.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah titah Jokowi,&nbsp;&nbsp;Golkar dan PAN resmi bergabung dengan Gerindra dan PKB, maka semakin jelas bahwa koalisi Pemerintahan pecah berkeping-keping menjadi 3 bagian. Ini terlihat dari konfigurasi 3 koalisi partai dengan bakal calon presidennya masing-masing.&nbsp;&nbsp;Presiden dan menteri-menterinya tidak mungkin bekerja sepenuh hati. Tenaga, pikiran dan waktunya habis tercurahkan untuk perang politik untuk kemenangan 2024.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian lanjut Didik, ada yang perlu dicatat bahwa demokrasi yang mundur dan buruk sekarang ini hampir masuk jurang ketika kekuatan yang berkuasa bermanuver untuk mengubah masa jabatan presiden menjadi 3 periode di dalam UUD 1945. Semua partai tunduk terhadap gagasan keblinger ini dan sudah tinggal mewujudkannya dalam sidang paripurna MPR.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTetapi Megawati dan PDIP sebagai partai terbesar menolak takut Jokowi mengalami nasib seperti Bung Karno.&nbsp;&nbsp;Dalam hal ini Megawati telah menyelamatkan demokrasi dari provokasi politik untuk amandemen undang-undang dasar, yang sudah digiring menuju 3 periode,\u201d tambah didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menyebut politik sekarang bergerak dengan kemauan dan kepentingan elit pemimpinnya.&nbsp; \u201cPara pendukung Capres ke depan sebaiknya tidak usah militan radikal dengan membangun peradaban politik jahiliyah dan demokrasi bajingan, yang&nbsp;&nbsp;dilakukan dengan cara-cara menghasut, menjadi buzzer pemecah belah warga bangsa, dan sejenisnya.&nbsp;&nbsp;Itu telah terjadi dalam pilpres yang lalu dimana sesama warga dibelah dan membelah menjadi kutub Cebong dan Kampret.\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMengapa? Sekarang cebong dan kampret bingung sebab pimpinannya berganti peran.&nbsp;&nbsp;Yang kampretnya menjadi cebong dan yang cebong menjadi kampret.&nbsp;&nbsp;Sebagai contoh PSI sedang bingung dan pusing tujuh keliling apakah ikut ganjar atau prabowo?\u201d ungkap Didik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSetelah Jokowi membentuk koalisi baru berhadapan dengan megawati, maka tidak ada lagi cebong dan kampret.&nbsp;&nbsp;Permusuhan di masa lalu tidak perlu lagi karena pemimpinnya memang tidak dalam&nbsp;<em>posisi head to head&nbsp;<\/em>tapi saling merangkul untuk kepentingan dirinya masing-masing,\u201d pungkas Didik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORANBOGOR.com,JAKARTA-Rektor Universitas Paramadina,Prof. Didik J. Rachbini menilai Politik di Indonesia bungkusnya demokrasi modern,tetapi isinya sangat tradisional, dan bahkan buruk karena tidak bisaditebak. Kadang-kadang bercampur klenik. Tidak ada acuan ideologis, tidak juga ada dalam kerangka akademis \u201ctext book\u201d, yang contohnya kebanyakan Barat.\u00a0 \u201cSiapa yang menyangka bahwa Jokowi secara samar dan diam-diam membuat kendaraan koalisi, yang menyebabkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1675,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"content-type":"","footnotes":""},"categories":[131],"tags":[159,160],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1674"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1674"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1674\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1674"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1674"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1674"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}