{"id":4348,"date":"2023-10-17T10:16:38","date_gmt":"2023-10-17T03:16:38","guid":{"rendered":"https:\/\/koranbogor.com\/?p=4348"},"modified":"2023-10-17T10:16:38","modified_gmt":"2023-10-17T03:16:38","slug":"keputusan-mk-jadi-karpet-merah-dinasti-politiknia-sjafrudin-drama-ini-harus-dihentikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/2023\/10\/17\/keputusan-mk-jadi-karpet-merah-dinasti-politiknia-sjafrudin-drama-ini-harus-dihentikan\/","title":{"rendered":"Keputusan MK Jadi Karpet Merah Dinasti Politik,Nia Sjafrudin : Drama Ini Harus Dihentikan"},"content":{"rendered":"\n<p>KORANBOGOR.com,JAKARTA-Aktivis antidiskriminasi Nia Sjarifuddin menilai telah terjadi kemunduran demokrasi dan dinasti politik akibat perilaku pengelolaan kekuasaan dalam pemerintahan. <\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena itu mencuat seusai Mahkamah Konsitusi (MK) meloloskan gugatan batas usia capres-cawapres tetap 40 tahun dengan catatan pengecualian sudah berpengalaman sebagai kepala daerah. <\/p>\n\n\n\n<p>Nia yang juga Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI ) itu menilai hal tersebut sebagai upaya memuluskan jalan dinasti politik di Indonesia agar langkah Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres Prabowo Subianto di Pilpres 2024 tidak ada hambatan. <\/p>\n\n\n\n<p> &#8220;MK itu juga sebuah agenda dari perjuangan demokrasi. Jadi, kami ingin menjaga marwah bernegara berbangsa ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan,&#8221; kata Nia yang menjadi pembicara pada Maklumat Juanda yang berjudul &#8220;Reformasi Kembali ke Titik Nol&#8221; di Jakarta Pusat, Senin (16\/10). <\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Nia, praktik-praktik dinasti politik yang telah tumbuh dalam demokrasi tidak boleh dibiarkan terus berkembang dan harus dihentikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebab, setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk diangkat dalam jabatan pemerintahan. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Bahwa apa yang kita lihat sekarang ini adalah sebuah bentuk &#8216;karpet merah&#8217; yang berarti bukan sebuah keadilan untuk semua orang muda dalam kesempatan ini, itu yang kita lihat, jadi kami sangat mengkhawatirkan sekali kalau kita diam itu membiarkan bentuk-bentuk nepotisme yang selama ini selalu dilawan,&#8221; ujar Nia. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Artinya kita ingin menegakkan sesuai dengan konsensus Pancasila, keadilan itu untuk semua orang tidak boleh ada previlege untuk siapa pun, semua orang harus berkeringat untuk mencapai tempatnya masing-masing,&#8221; imbuh dia. <\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan MK baru-baru ini diibaratkan layaknya sebuah drama dengan menyajikan hak istimewa bagi putra presiden. <\/p>\n\n\n\n<p>Meski masih berusia 36 tahun, tetapi pengalamannya sebagai wali kota jadi celah untuk bisa maju dalam Pilpres 2024 mendampingi Prabowo Subianto.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Yang kita lihat sekarang adalah sebuah drama yang menurut saya harus dihentikan dan dikembalikan kembali pada spirit kebersamaan, pada spirit keadilan untuk semua orang,&#8221; kata dia. <\/p>\n\n\n\n<p>Nia meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia supaya tetap menanamkan watak karakter berbangsa dan bernegara yang dibalut dalam kebhinekaan demi menjaga agenda reformasi. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jadi, kita bagian dari tanggung jawab untuk terus menjaga agenda reformasi sampai kapan pun dan kita ingin mewariskan sebuah watak karakter berbangsa yang baik bukan untuk kepentingan kekuasaan yang terjadi,&#8221; pungkas dia<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORANBOGOR.com,JAKARTA-Aktivis antidiskriminasi Nia Sjarifuddin menilai telah terjadi kemunduran demokrasi dan dinasti politik akibat perilaku pengelolaan kekuasaan dalam pemerintahan. Fenomena itu mencuat seusai Mahkamah Konsitusi (MK) meloloskan gugatan batas usia capres-cawapres tetap 40 tahun dengan catatan pengecualian sudah berpengalaman sebagai kepala daerah. Nia yang juga Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI ) itu menilai hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4349,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"content-type":"","footnotes":""},"categories":[128,131,363,130],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4348"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4348"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4348\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4348"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4348"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev1.koranbogor.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4348"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}